Template by:
Free Blog Templates

Kamis, 21 Oktober 2010

Sajak Bisu untuk Cinta

Aku menunggu sejam yang lalu dalam terik suci mentari hingga mengalunnya rintik sunyi hujan di sore itu. Kudengar hingga kunanti kereta senja yang datang di ufuk timur tiba. Aku pun tak tahu siapa dan mengapa diriku berada di sini dalam keheningan siluet senjamu. Dalam ruang-ruang dimensi atau wujud tiada hendaki cinta bernaung dalam gelora asmara di setiap jiwa anak cucu Adam diciptakan.

Genderang hati ini bertabuh dengan simfoni haru pilu, lalu hancurkan puing-puing hati biru kelabu. Wujud dentuman ornamen melirih kian menderu, sendu, dalam tangisan nian syahdu.
Kucoba warnai hari-hariku bagai rona kehidupan cintaku. Mungkinkah asmara dalam raga bersenandung rindu harus malu pada hamparan luas lautan kian menebar emosi dan tetesan embun dalam hati pelangi biru di langit Lazuard.

Menatap indah cakrawala penuh harapan dan cinta di balik Gunung Fujiyama hanya bersama sosok indahmu. Kutorehkan namamu dalam hati bunga Edelwiss, lalu kulukis cantiknya parasmu dalam beribu ratapan sajak-sajak pelangi. Tepercik kata-kata mimpi, bersungging senyum dewi-dewi cinta. ‘’Akankah kau pergi tinggalkan diriku sendiri sehingga kau nanti kembali dalam ruang dan dimensi yang lain?’’ tanyaku.

‘’Mungkin biarkan cinta bersemi dalam keabadian seiring ilusi waktu,’’ sahut Rose seraya menatap pilu. Sontak aku terpana dan bergemuruh dalam ingar-bingar cintamu.
‘’Jangan engkau biarkan cinta bersemi dalam ilusi waktu,’’ pintaku. ‘’Mengapa?’’ sahutnya seraya memegang tanganku dalam indahnya cakrawala sore itu.
‘’Karena waktu kian sirna terempas dan tersungkur hingga tercabik prahara kenistaan,’’ ujarku.
‘’Lalu harus dengan apa kubuktikan karena kusungguh mencintaimu dan cintaku tak bersayap seakan malaikat malu menatap keabadian cinta kita,’’ pinta Rose penuh kebimbangan.

‘’Biarlah cinta turun bagai setetes embun dari beribu pelangi yang hiasi kehidupan cinta,’’ ujarku singkat.

Kuempaskan kata bertakhta retorika itu dalam ruangan dimensi lain hingga waktu kian sirna dan musnah tersungkur luka. Tercabik prahara dusta, lalu tercekam badai durjana yang tak kunjung reda. Angin-angin sunyi mendendangkan ornamen cinta buatku nian pilu.

“Apa kau tahu, mengapa ombak datang menggema mengikis jiwa-jiwa yang hampa dan badai menyeruak luluh lantak, lalu memorak-porandakan raga-raga tak berdosa dalam siluet senjamu,” ungkapku masih bimbanng.

Kupilin waktu tuk beranjak diam dalam heningnya malam dan galaunya hati, mengapa Tuhan kini tak kunjung bantu diriku.
Sang waktu terbungkam prahara kenistaan. Kini pujaan tinggal kenangan dan harapan adalah bualan. Kuhapus cinta setahap demi setahap, namun tak berarti. Kepedihan yang kian kurasa seolah kini tersingkir luka lebam tersedu sedan dalam angan. Namun, kini engkau hadir dan berikan puing-puing cinta dalam tutur lembutmu.

Kereta senja menanti tiap hela napasku, bergulir seiring terempasnya pujaan ke dalam retorika ilusi fatamorgana yang kini hanya tinggal kenangan. Sebuah cinta, hanya sebuah nama di hati.. Bulan pelita gundah gelisah di jiwa sehingga kutermanyun mimpi-mimpi dalam ingar-bingar ilusi. Kisah cintaku penuh penantian kata, dalam sorot sinarnya mulai sayup terangi bekunya hati ini. Pesonanya pahit tuk diterjang seakan tercabik sebilah parang yang tajam dan kejam.

‘’Mungkinkah sedihku kian meratapi dan menggaru biru kelabu?” ungkapku dalam ringkihan kebisuan.
Kereta senja menanti tiap hela napasku, kumeratap malu lalu embuskan ayatýÿ-ayat cinta dalam napas terakhirku. Biarlah cinta sejati bersemi di hati, walau mata terbuka dan tertutup, cintaku kian abadi.

“Kuhapus air mata dalam duka, Kupejamkan mata dalam duka, Kuempaskan raga dalam elegi cintamu, dan Kurentangkan jiwa dalam sukma keabadian.. “
Harusnya kutahu, cinta kian turun seiring gemuruh hujan. Sosok dewi cinta menari-nari berdendang alunan simfoni indah sepanjang masa. Cinta tak mengenal perubahan karena perubahan itu merupakan perjanjian. Sayang, cinta tak mengenal perjanjian.
Kuharap kedamaian yang terpancar dari egomu memberikan sekelumit janji yang lebih indah diungkapkan dengan kebisuan. Beribu kata kian menjerit tuk diucapkan atau memang selalu ada hal indah yang terlupakan dan seharusnya lenyap terbakar egomu…(*)

Persahabatanku Hancur Cuma Karena Cowok

Sekarang aku sudah di SMK dan akupun mempunyai teman baru. Tapi semua teman aku tidak satupun yang bisa jadi teman dekatku. Sesudah tiga bulan, aku di sekolah itu akhirnya akupun memiliki teman yang aku percaya dan aku anggap dia sebagai teman curhat. Dan aku pun percaya sama dia.
Sebelumnya kami sama-sama tidak punya cowok alias kami jomblo.

Persahabatan aku sama dia (teman dekat aku namanya Yana) sangat akrab. Dia sering curhat tentang keluarganya ama aku. Begitu juga dengan aku. Kami sama-sama mengetahui tentang keluarga kami berdua. Aku dan Yana pun berjanji tidak akan pernah membocorkan rahasia kami berdua. Karena kami sudah berjanji. Apabila kami berantam, kami tetap tidak akan membongkar rahasianya.

Setelah tiga bulan kami jalani persahabatan kami, aku dan Yana mulai dekat ama cowok yang kami suka. Aku punya teman cowok dia punya teman cowok juga. Kami sama-sama dekat ama cowok. Tapi aku tidak pengen mau pacaran, aku ngerasa aku tuh masih kecil. Tapi teman aku ini mulai dekat ama seseorang, dia pun cerita samaku tentang cowok. Dia bilang “Aku punya teman, dia orangnya putih, ganteng, trus motornya mio” Yana cerita kayak gitu ama aku. Aku pun ngerasa gimana ya nanti sesudah punya cowok. Apakah aku ama Yana pisah alias berantam?

Tapi setelah aku pikir kayak gitu, aku pun tidak mau dekat ama cowok. Biarlah aku dekat ama teman aku sendiri. Walaupun Yana udah punya cowok, yang penting persabatan aku ama Yana tidak hancur. Karena aku ngerasa Yana tu paling baik dan ngertiin aku, waktu aku sedih dia selalu ada maupun senang, begitu juga dengan Yana.

Tapi waktu Yana punya cowok, semua orang benci ama dia. Soalnya yana tu ngambil cowok orang, Kata orang-orang. Tapi aku tidak tau benar, soalnya semenjak Yana dekat ama cowoknya tu baek yang jelas cowoknya tu dibanggakan trus. Tapi pada suatu hari, rupanya cowok Yana tu orangnya matre suka mlorotin orang. Mulai dari situ persahabatan aku ama Yana mulai renggang, alias berantakan. Aku ama dia sering berantam. Tapi walaupun Yana punya cowok. Aku tetap berada disampingnya. Aku selalu ngerasa apa yang dirasakan Yana. Yana senang, akupun ikut senang.

Lama-kelamaan dia pacaran akhirnya dia putus juga. Dan persahabatan kami makin dekat. Kata Yana “Aku nyesal punya cowok, cowok itu biadap, pengecut, nggak ngerti perasaan cewek. Itulah terucap dari mulut Yana sendiri (teman dekat aku sendiri), tapi aku hanya bisa bilang sabar aja. Karena aku tak bisa ngelakukan apa-apa. Tapi di dalam permusuhan itu aku dan yana akhirnya tambah dekat. Aku sangat senang dapat teman seperti Yana. Walaupun Yana sedikit cerewet dan menyebalkan, tapi aku senang.
Hari demi hari berlanjut. Akhirnya kami sudah sampai kesemester 2 kelas satu. Kami sangat senang bisa ujian dan lumayan nilai kami bagus. Tapi didalam semester ini banyak cobaan yang kami hadapi. Akupun sudah punya cowok, begitu juga dengan dia. Tapi kami selalu cerita tentang semua yang kami jalani. Tapi aku ama yana tidak terlalu dekat lagi. Karena kami punya masalah sendiri.

Sebenarnya aku senang punya cowok. Tapi kadang buat kita sakit hati. Akupun pacaran bukan karena suka sama cowok ini. Tapi karena aku cumin pengen coba-coba. Karena dialah pacar pertama aku. Lama sudah pacaran sama dia, akupun merasa tidak ada guna aku pacaran, malah merugikan diri aku sendiri. Akhirnya akupun mutusin dia melalui hp. Tapi katanya dia tak terima aku putusin. Akupun tambah pusing. Aku cerita sama teman aku dikelas malah semua orang tu nyalahin aku. Aku tambah sedih tapi Yana selalu ada di samping aku, yang selalu mendukung aku. Akupun merasa senang sekali karena Yana masih mau belain aku walaupun aku salah.

Tapi aku merasa tidak senang kalau yang di samping aku. Karena Yana sudah terlalu baik. Dia selalu membantu aku kalau aku susah. Padahal aku tak pernah baik sama dia. Aku ngerasa selalu jahat sama dia. Tapi persahabatan aku sama Yana makin dekat lagi. Aku sama Yana kadang berteman, berantem menjauh juga pernah. Kami lucu ya……..ha…..ha……..

Sebentar lagi kami mau ujian, kami harus belajar serius, soalnya ini ujian kenaikan kelas. Tapi aku sama Yana tak pernah belajar dengan serius. Kami sering nyontek ama teman. Yang jelas kami berdua dibilang mada. Guru-guru juga udah tau kalau kami berdua tu bandel, bukan hanya guru aja yang tau kebandelan kami, tapi malah semua teman sekelas kami banyak yang benci sama kami berdua. “Katanya kami orangnya cerewet trus sok bagak” mungkin orang tu ngomong kayak gitu. Tapi kami berdua nggak merasa bandel.

Akhirnya kami semua satu sekolah sudah selesai ujian. Kata guru kami ngambil rapor. Sesudah selesai seminggu ujian kami akan mengambil rapor. Kami pun merasa gimana gitu. Kami sekelas ketakutan “takut tinggal kelas. He…..he……he…… akhirnya kami ngumpul di kelas. Dan menyebutkan siapa-siapa yang dapat juara. Aku ama Yana senang bila dapat ranking. Tapi aku merasa tak pantas dapat rangking. Karena kamikan mada/bandel. Tapi kami senang, akhirnya kami naik kelas…………….

Sekarang kami sudah duduk di kelas 2. kebahagiaan yang ada waktu kelas satu. Sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah hancur. Semenjak Yana pacaran sama anak kelas satu, semua teman-teman aku nuduh aku ngambil cowoknya pa sih……benar “aku dekat sama pacar Yana yang kelas satu tu. Tapi cuma sebagai teman itu aja kok. Nggak lebih. Tapi malah orang tu nuduh aku yang aneh-aneh. Padahal cowok Yana ni yang kelas satu tu cuma mau hanya Yana, ama aku. Dia bilang Yana tu suka apa” trus aku bilang Tanya sendiri aja ama dia. Tapi dia tak mau nanya ama Yana. Mungkin Yana nggak tau Dede sering ke rumah aku cuma mau nanyain Yana. Sangking Dede sayang ama Yana, dia ngelakukan apa aja. Bahkan dimata guru Dede ni orangnya bandel (cowok Yana, Dede). Biarlah Dede bandel yang penting Yana sayang ama Dede” katanya. “Bahkan Dede pernah diskor hanya karena Yana. Tapi Yana nggak tau berapa besar pengorbanan Dede untuk dia. Sampai-sampai dia nuduh aku selingkuh ama Dede, Temannya sendiri. Aku ngerasa nggak ada yang percaya ama aku. Yana ulang tahun bulan Agustus. Aku sama Dede pun mau rencanain beli kue untuk Yana. Dede pun datang ke rumah aku. Dia bilang, ‘’Ka’bantu Dede buat surprise untuk Yana,’’ Kata Dede sama aku. Baru Dede ngomong kayak gitu, tiba-tiba teman aku juga datang, aku pun bingung mau ngomong sama siapa, aku ajak bicara ja kami bertiga. Kami bercanda-canda, ketawa-ketawa. Akhirnya Dede ama aku nggak jadi buat rencana tuk ultah Yana.

Besoknya, dia pun ngomong di skul, pas di dalam kelas trus Yana ada disamping aku. Dia pun cerita waktu dia ke rumah aku terus dia juga bilang “Dede juga datang kerumah. Yana pun tambah curiga. Yana marah-marah amaku dibilang “Ria, ngapa nggak cerita amaku Dede datang ke rumah Ria. Aku cuma bilang, Dede ngajak aku ke rumah Yana, tapi aku tak bisa. Cuman itu alasan aku ama Yana. Yana pun nggak percaya amaku.

Ultah Yana tinggal tiga hari lagi. Tapi rencananya belum dibuat ama Dede. Jadi aku ngerasa, “Kayaknya Dede ne tak jadi beli kuenya, soalnya Dede nggak ada ngomong amaku. Rupanya Dede sama Yana lagi berantam, tanpa sepengetahuan aku. Walaupun orang tu berantem, aku tetap mau buat kejutan buat Yana. Dengan duit yang aku sisihkan, aku tetap mau beli kue untuk Yana. Pas dua hari lagi, hari ultah Yana aku udah siap-siap mau beli kuenya. Tapi waktu di skul Yana marah-marah ama aku. Dia bilang, “Ini semua gara-gara Ria. Aku berantam ama Dede”. Jadi akupun ngomong, kok aku yang disalahin, aku kan tak ada pacaran ama dia. Aku cuman bisa bilang gitu, dan hanya terdiam.

Aku jadinya putus asa buat rencana untuk ultah Yana ini. Aku malas, aku benci ama dia, jadinya aku ngerasa bersalah. Aku nyesal dekat ama Dede. Tapi semuanya udah berlalu. Aku cuman bisa diam dan tak mau beli kue untuk Yana lagi. Karena aku sakit hati. Pada malam harinya akupun belajar di meja kamarku, aku belajar sambil melihat kalender yang aku tandai (pas besok tanggal 25 hari senin ultah Yana) setelah ku pikir-pikir “aku beli kuenya tau nggak” tapi aku masih sakit hati ama dia aku nggak terima dia nuduh aku kayak gitu. Dia nuduh sama temannya sendiri ngerebut cowoknya. Sudah satu tahun aku berteman ama dia. Dia udah kenal samaku begitu juga aku udah kenal ama dia. Akhirnya aku nggak jadi beli kuenya.
Besok harinya :

Tanggal 25 Agustus Yana Ultah.
Akupun nggak ada ngucapin apa-apa ama dia. Pas kami semua uda di kelas, akupun duduk disampingnya. Tapi aku diam aja. Tak ada ngomong apa-apa. Tapi semua teman sekelas aku udah ngucapin met ultah ma dia. Setelah kupikir-pikir kita tu harus saling memaafkan akhirnya aku minta maaf ama dia dan ngucapin met ultah tanpa ngasih apa-apa.

Pas kami keluar main dia pun curhat ama aku. Dia bilang samaku, “Aku sama Dede sudah putus”. Aku hanya terdiam. Aku tak mau ikut campur lagi urusan mereka berdua. Tapi walaupun mereka berantam, akan tetap berteman sama Dede. Begitu juga dengan Yana tapi tidak terlalu dekat.

Sesudah Yana putus ama Dede. Tak henti-hentinya masalah datang menimpa aku. Aku pun masalah sama cowok aku. Aku mutusin dia karena aku ngerasa aku tak ada teman. Tapi dia tak mau putus samaku. Tapi aku tetap mau sendiri tanpa dekat ama cowok. Tapi semua orang benci samaku termasuk teman-teman aku, tetanggaku yang jelas semua teman-teman aku. Aku cuman pengen bisa dekat lagi sama Yana (yaitu teman dekat aku sendiri yang nuduh aku pacaran ama cowoknya).

Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan membuka pintu hati Yana, begitu juga dengan aku agar aku sama dia bisa berteman kembali agar persahabatan kami lebih dekat lagi. Aku juga minta doa yang telah membaca cerita ini. Dan aku mengucapkan terima kasih banyak bagi yang membaca kisah hidup persahabatan aku. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih banyak.
Saya berterima kasih kepada kru yang bertugas dan membuat iklannya. Sehingga saya yang bernama Ria bisa membagi cerita ini kepada siapapun yang membacanya. Saya pun berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan kecerdasan kepadaku.

Mungkinkah Ini Saat Terakhir? - Cerpen Cinta

Tililit…. Tililit…. Tililit…. Tililit…. Tililit…. Tililit….Dengan malas Rona menggerakkan tangannya. Ia berusaha meraih handphone yang terletak di atas meja tepat di sebelah tempat tidur dengan mata masih terpejam.

“Ha..lo …”, sahut Rona dengan perlahan setelah memencet salah satu tombol handphone.
“Ya ampun Na! Lu baru bangun ya?” tanya Rara.
“Yaaaa, ada apa sih Ra?” sahut Rona dengan mata masih mengantuk.
“Tumben banget lu kesiangan? Emang semalam lu begadang ya?” tanya Rara lagi.
“Iya nyelesain paper yang disuruh Bu Rani. Weker gue rusak, makanya telat bangun,” jelas Rona perlahan.

“Ohhhh….gitu, ya udah! Sekarang lu mandi dan cepat-cepat kemari ada kabar penting!” perintah Rara.

“Kabar apaan sih Ra?” tanya Rona dengan malas karena merasa tidak akan tertarik dengan kabar dari sahabatnya itu.

“Hari ini Dude masuk sekolah Na!” kata Rara dengan tegas.
Rona yang sedari tadi tiduran dan memejamkan mata, sontak kaget dan langsung duduk dengan membelalakkan matanya.

“Serius Ra?” tanya Rona karena masih ragu dengan Rara.
“Gue gak becanda! Makanya buruan lu kemari,” katanya mencoba meyakinkan.
“Ya udah tunggu gue,” jawab Rona dan kemudian meletakkan handphone-nya di atas meja. Dia bergegas mandi dan bersiap-siap ke sekolah.

Dalam perjalanan Rona terlihat gelisah. Pikirannya bercampur aduk antara senang dan tidak. Pak supir yang sedari tadi mengamati Rona merasa heran. Rona memang sudah sangat merindukan sang pacar Dude, tapi ia juga membencinya. Karena sudah tiga bulan terakhir ini Dude tak masuk sekolah. Dude juga tak pernah memberikan kabar. Dan saat Rona mendatangi rumah Dude, pembantunya tak mau memberikan informasi tentang Dude.

Sahabat dan teman dekat Dude sudah ditanyai Rona, tapi tak satu pun yang tahu. Sedangkan wali kelas dan guru-guru tidak mau memberitahukan apapun tentang Dude, padahal mereka sebenarnya tahu segalanya. Bulan pertama dan kedua Rona seakan tak terima dengan kehilangan Dude yang tiba-tiba. Namun di bulan ketiga ia mulai berangsur pasrah.

Mobil yang dikendarai pak sopir berhenti tepat di depan gerbang sekolah, tanpa mengucapkan apa-apa Rona bergegas keluar dari mobil dan berlari ke arah kelas. Pak sopir hanya diam sambil menggeleng-gelengkan kepala. Saat tiba di kelas Rona langsung menghampiri Rara.
“Ra! Lu serius dengan yang tadi kan?” tanya Rona meminta penjelasan Rara.
“Iya Na! tadi Dude datang kemari dan nyariin lu,” jawab Rara.
“Trus lu ngomong apa sama dia?”

“Ya gue bilang aja lu belum datang. Terus dia pergi dan dia balik ke kelasnya,” jelas Rara.
“Berarti dia masuk sekolah lagi dong?” tanya Rona lagi dijawab dengan anggukan oleh Rara.
“Jadi selama ini dia ke mana ya? Lu nggak tanya sama dia Ra?”
“Nggak, gue ngerasa canggung aja udah lama nggak ketemu dia,” jelas Rara.

Mereka berdua pun terdiam dan merasa heran. Namun Rona nggak mau terburu-buru untuk mendatangi Dude. Dia merasa bahwa Dude yang bersalah dan harus menemuinya terlebih dahulu untuk memberikan penjelasan tentang hubungan mereka.

Rona menunggu dengan gelisah, sampai bel masuk pun berbunyi dan Dude belum datang. Kemudian pada jam istirahat Rona memutuskan tidak ikut Rara ke kantin. Karena Rona berfikir Dude akan datang kembali menemuinya. Namun untuk kedua kalinya Rona salah menduga.

“Dude belum kemari Na?” tanya Rara yang sudah kambali dari kantin dengan dua buah minuman di tangannya.

“Belum Ra.,” menggelengkan kepala dengan wajah kecewa.
“Kenapa ya?” Rara merasa heran diikuti gelengan kepala Rona yang menandakan juga heran.
”Tapi lu tenang aja Na, gue yakin nanti pulang sekolah dia pasti nemuin lu,” kata Rara dengan tegas.

Dan ternyata dugaan Rara benar. Dude sudah berada tepat di depan pintu kelas menunggu. Rona berdiri terpaku, bibirnya terasa beku. Sedangkan Dude juga terlihat sangat gugup, seakan tidak siap bertemu Rona.

Namun kerinduannya yang besar kepada Rona mengalahkan ketidaksiapannya. Rara tidak ingin mengganggu percakapan sahabatnya itu, ia tahu banyak hal yang pasti akan mereka bicarakan. Sehingga Rara memutuskan pulang duluan.

“Hai Na,” sapa Dude dengan lembut.
“Hai…,” jawab Rona singkat.
“Apa kabar?” tanya Dude.
“Baik, kamu?” Rona menjawab pelan.
“Lumayan,” jawab Dude
“Aku antar kamu pulang ya? Sekalian ada yang mau aku omongin”, sambung Dude.
Rona mengangguk. Mereka pun pergi meninggalkan sekolah dengan mengendarai motor yang dibawa Dude. Selama di jalan mereka hanya terdiam, tidak seperti suasana dulu yang begitu dihiasi dengan canda. Dude membawa Rona ke sebuah taman di mana dulu mereka sering menghabiskan waktu berdua. Setelah turun dari motor mereka berdua duduk di kursi yang ada di tengah taman.

“Aku mau minta maaf sama kamu Na, karena selama ini aku nggak ngasih kabar ke kamu,” Dude berusaha memulai pembicaraan.

“Kamu sebenarnya ke mana sih? Kamu tahu nggak, aku udah nyariin kamu ke mana-mana,” Rona merasa tidak tahan lagi menyembunyikan perasaannya.

“A….ku, sakit Na!” jawab Dude dengan sangat lambat.
“Sakit?” Rona merasa jawaban Dude bukanlah hal yang aneh tetapi dia justru heran mengapa hal itu harus disembunyikan darinya.

“Tapi kenapa kamu nggak ngasih tau aku, aku kan pacar kamu jadi aku bisa ngerawat kamu.”
“Aku tahu Na, tapi ini nggak segampang itu.”

“Maksud kamu?” Rona semakin terlihat bingung dengan perkataan Dude yang nggak jelas. Dude terdiam, mukanya terlihat ragu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Rona.
“De? Kenapa kamu diam? Maksud kamu apa?” Rona mengguncang badan Dude, memaksa Dude menjelaskan semuanya. Rona merasa sudah cukup untuk bingung selama tiga bulan ini. Sehingga dia tidak ingin menunda lagi mengetahui apa yang terjadi.

“Aku…aku…aku menderita kanker stadium akhir Na,” jelas Dude dengan perlahan.
“Apa?” Rona terlihat sangat terkejut, ia benar-benar nggak menyangka penjelasan Dude akan seserius itu.

“Selama tiga bulan ini aku menghilang, karena mama membawa aku ke Singapura untuk menjalani perawatan. Di sana aku terapi dan aku sempat kritis Na,” Dude melanjutkan penjelasannya.
”Sekarang aku hanya punya waktu seminggu, setelah itu aku harus balik ke Singapura untuk perawatan selanjutnya.”

“Ya ampun Dude….kenapa kamu nggak ngasih tahu aku?” keluh Rona dan air mata terlihat jatuh di pipinya yang halus.

“Aku takut setelah mendengar semuanya kamu ninggalin aku. Aku kangen banget sama kamu dan aku takut kehilangan kamu Na.” Dude menutup mukanya dengan tangan. Ia menangis layaknya seorang anak kecil.

Melihat kesedihan pacarnya itu hati Rona hancur. Rona meraih tangan Dude dan memegangnya erat-erat. “Aku cinta sama kamu, dan aku cinta kamu apa adanya, aku nggak bakalan ninggalin kamu,” ujar Rona sambil menatap Dude.

“Aku bakal nunggu kamu, sampai kamu sembuh.”

“Tapi penyakitku semakin parah Na, aku nggak tahu kapan bisa balik lagi. Entah itu tiga minggu, tiga bulan, atau mungkin tiga tahun lagi,” tambah Dude dengan air mata yang terus mengalir.
“Aku nggak peduli, aku bakal nungguin kamu. Asal kamu janji berusaha untuk sembuh demi aku,” tambah Rona.

Dude terharu dengan perkataan Rona. Ia merasa semangat hidupnya kembali lagi. “Aku janji sama kamu, aku akan berusaha untuk sembuh.”

Dude langsung memeluk Rona dengan erat. Sudah lama pelukan hangat itu tidak mereka rasakan. Mereka larut dalam kebersamaan itu. Sejenak mereka melupakan semua kesedihan yang ada. Walaupun sebenarnya Rona tahu semua itu tidak akan mudah nantinya. Tapi ia hanya ingin memberikan semangat penuh untuk Dude, karena hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.

Seminggu sebelum keberangkatan Dude ke Singapura mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama. Rona hanya ingin memberikan kenangan yang terindah untuk Dude. Kenangan yang mungkin tidak akan terulang lagi. Kenangan yang juga mungkin terakhir Dude rasakan. Mereka berdua benar-benar sadar akan hal itu. Tapi jauh di dalam lubuk hati Rona, ia berharap ini hanya sepenggal kenangan yang nantinya menjadi memori saat mereka menghadapi masa tua bersama.

Senyuman Terindah dan Terakhir

Syla amila, itulah nama sahabat yang selalu hadir dalam kehidupanku. Aku sangat mengenal Syla, dialah sosok jiwa yang kukagumi. Ia selalu tegar menghadapi cobaan yang menerpanya. Se-nyumannya yang indah selalu bisa meluluhkan hatiku saat aku sedang menasehatinya. Nilai rapornya tidak pernah merah, dan dialah seorang yang dianugerahi kecerdasan oleh Al-Wahhab.

Namun, waktu untukku dapat menemuinya dalam keadaan sadar semakin berkurang. Penyakit berbahaya yang telah bertahun-tahun menyerangnya, membuat Syla lebih sering berada di ruang yang penuh dengan aroma obat-obatan dan Syla tidak lagi melakukan aktivitas yang biasa dilakukan anak seusiaku. Penyakit yang dialami Syla juga pernah dirasakan ibunya, yang telah lama berpulang ke rahmatullah.

Setelah beranjak pergi dari bangunan tempat proses pembelajaran, biasanya aku pulang bersama sahabatku, Syla, sekarang aku hanya sendiri menyusuri jalanan sepi.

Aku pulang ke rumah, mengganti baju, dan segera menuju ke supermarket, untuk membeli buah-buahan. “Cio…” terdengar sebuah suara menyapaku dari belakang. Saat aku berbalik, terlihat sesosok pria tinggi, berumur sekitar lima puluhan.
“Ehh… Om Anton, beli buah juga ya? Gimana keadaan Syla, apa dia udah sadar?” tanyaku bertubi-tubi.
“Iya, Oom beli buah juga untuk Syla. Alhamdullillah sekarang Syla udah sadar. Cio mau menjenguk Syla, ya?” jawab Om Anton sambil bertanya balik.
“Iya, Om.”

“Kalau gitu, bareng om aja. Oom juga mau ke rumah sakit,” tawar Om Anton.
“Iya Om, Cio ikut sama Om Anton.” jawabku.

Sebelum menuju ke rumah sakit, aku dan Om Anton menuju ke sebuah toko bunga hidup. Aku memilih tiga batang bunga anggrek putih, dan Om Anton memilih serangkaian bunga anggrek merah muda. Setelah membayar bunga yang dipilih, kami langsung menuju ke rumah sakit.

“Syla…” kataku sembari mendekapnya penuh kerinduan. Kesepianku terobati, bibirku yang tadinya datar karena nilai ulanganku yang di bawah standar, menjadi sebuah lengkungan atau tepatnya menjadi sebuah senyuman.

“Syl… kamu cepat sembuh ya. Aku rindu saat-saat bersama kamu beberapa tahun lalu. Sepi. Itulah yang aku rasakan selama ini, Syl…” kataku usai mendekapnya, dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kamu gak usah khawatir aku pasti sembuh, ya, kan, Pa?” jawabnya sambil tersenyum ramah, lalu menoleh kearah ayahnya.
Om Anton hanya mengangguk dan mengiyakan ucapan anak semata wayangnya itu. Om Anton selalu terlihat sedih jika ia menatap Syla. Walaupun Syla berkata seperti itu, aku tetap khawatir kepadanya. Ia selalu menutupi hal yang sebenarnya selalu menyiksanya.

Hari berganti hari. Keadaan Syla seakan tak dapat diselamatkan. Darah yang keluar dari hidungnya semakin sering dan semakin banyak keluar dengan sia-sia. Hatiku makin perih, apalagi Om Anton, ia takut kehilangan gadis kecilnya yang akan genap berusia empat belas tahun.

***

Seperti biasanya, hari ini pun aku akan pergi ke rumah sakit. Huh… siang ini sang mentari bersinar dengan sesukanya, sepertinya ia tega membakar kulit makhluk hidup yang hanya berpayungkan langit.

Sesampainya di rumah sakit, aku melihat Syla seperti makhluk yang tak berdaya, hidung, mulut, dan telinganya mengeluarkan darah yang tak hentinya mengalir. Dokter,dan perawat berusaha menghentikan darah yang mengalir. Hatiku getir. Tak kuasaku menahan tangisan ini, begitu juga dengan Om Anton yang tak hentinya memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Bibir Syla sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tapi sulit baginya untuk menggerakkannya, hanya menangis yang dapat Syla lakukan. Setelah itu kulihat senyuman terindah dari bibirnya.

Tak lama hal itu berlangsung, nafas, serta detak jantung Syla berhenti. Tuhan sudah berkehendak. Hal yang paling ditakuti Om Anton akhirnya terjadi. Langit yang berwarna cerah berubah kelabu, tetesan kristal berjatuhan dari langit.
“Sylaaaa…” teriakku berbarengan de-ngan guntur yang seakan ikut bersedih bersamaku, dan Om Anton. Syla telah menyusul ibunya. “Syla… selamat tinggal, suatu saat aku akan ke sana dan menemui-mu”.

***

Sabtu, empat belas Februari. Aku pergi ke toko bunga hidup, kali ini aku membeli serangkaian bunga anggrek. Lalu pergi ke TPU untuk berziarah ke makam sahabatku, Syla. Tidak sulit bagiku untuk mencari makam Syla, hanya beberapa meter dari gerbang TPU. Dari gerbang kulihat seseorang berada berada di makam Syla. Kuperhatikan orang itu. Beberapa saat kemudian, ia berdiri dan beranjak dari makam Syla.

Akupun melanjutkan perjalananku menuju makam Syla. Saat berpapasan ternyata orang itu adalah Om Anton. Ia menyapaku dan tersenyum, lalu ia bilang padaku bahwa Syla ada di sini. Aku terkejut, mungkin Om Anton hanya bercanda. Aku hanya tersenyum, dan berjalan menuju makam Syla.

Kuletakkan serangkaian bunga anggrek yang kubeli tadi di atas makam Syla. Aku mengucapkan selamat ulang tahun dan selamat hari kasih sayang pada Syla. Dan aku pandangi batu nisan tempat nama sahabatku diabadikan.

Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan di depanku atau lebih tepatnya seseorang. Wajahnya mirip dengan sahabatku, ia tersenyum padaku. Senyuman itu mengingatkanku pada senyuman terakhir Syla. Kubalas senyum itu, seketika ia menghilang.
Mungkinkah itu Syla….?***

—————————————

Aku yang Salah

Dia memang orang yang tertutup, bahkan sangat tertutup, tetapi aku bisa sedikit masuk lewat pintu hatinya yang sedikit renggang. Walau susah akhirnya dia mau menceritakan masalahnya kepadaku, dan meminta aku merahasiakan hal itu.
“Kamu malu ya?” tanyaku waktu itu.

“Tidak. Aku tidak malu, aku cuma tidak mau dikasihani orang lain dan diberi perhatian khusus, aku ingin biasa saja.” Jawabnya dengan wajah tak bergeming. “Aku masih bisa hidup walau bagaimanapun caranya.”

“Iya, tenang aja aku pasti menyimpan rahasia ini.” Aku mencoba untuk mengerti dia.
“Terima kasih, Wit,” katanya lagi. Aku hanya mengangguk. “Tapi kenapa kamu sering tidak masuk sekolah?”
“Aku tidak semangat ke sekolah.”

“Tidak semangat? Seharusnya kamu itu semangat ke sekolah. Siapa tahu kekosonganmu akan terisi dengan adanya kegiatan-kegiatan di sekolah.”

“Entahlah.” Dia melenguh. Tidak ada yang bicara lagi. Bel tanda waktu istirahat selesai berbunyi. Semua kembali ke kelas. Aku duduk di tempat dudukku.

***

Tak terasa sudah enam bulan aku duduk di kelas XII, waktu pembagian rapor pun tiba. Tapi satu orang yang tidak datang mengambil rapor, yaitu Ruli. Apa anak itu masih natalan? Pikirku. Padahal aku sudah memberi tahu dia bahwa hari ini pembagian rapor.Ternyata dia tidak juga datang.

“Le, Ruli ke mana sih?” Tanyaku kepada Sule setelah selesai pembagian rapor.
“Nggak tau, sejak dua hari kebelakangan ‘ni HP-nya tidak aktif. Aku takut terjadi apa-apa aja sama dia.”
“Maksud kamu?”

“Iyalah, kemaren katanya dia sakit, jadi takut aja ada apa-apa.”
Aku tidak menjawab lagi, pikiranku hanyut entah ke mana. Ada apa lagi dengan Ruli? Apa dia baik-baik saja? Di mana dia sekarang? Apakah dia sudah pulang dari rumah neneknya? Berbagai pertanyaan berlomba-lomba masuk ke benak ku. Sayangnya, satu pun tidak terjawab. Pikiranku berkecamuk.

Libur semester ganjil telah usai. Semua siswa kembali ke sekolah. Ada dengan wajah gembira, ada juga dengan wajah kusut, mungkin belum puas mengokol di tempat tidur. Sedangkan aku sangat senang kembali ke sekolah apalagi hari senin ini kami akan diberi sarapan pagi yang enak, sarapan Fisika. Mata pelajaran yang sangat aku sukai di kelas XII, dan aku ingin sekali bertemu dengan Ruli, ingin tahu keadaannya. Dan ingin melihat keceriaan sebenar di wajahnya bukan kepura-puraan yang selalu disebarkannya.

Tetapi hari ini masih juga belum aku temukan sesosok Ruli di dalam kelas. Mataku liar memandang seluruh penjuru sekolah, tidak juga kutemukan. Dia memang tak datang lagi. Sudah dua minggu berlalu, Ruli belum juga tampak.

“Le, tahu nggak di mana Ruli? Sudah dua minggu belum masuk juga. Biasanyakan kamu selalu sms-an ma dia.”
“Tidak. Udah lama aku tidak menghubungi dia. Kamu ke-napa sih, Wit, nanya Ruli mulu?”

“Nggak apa-apa sih, aku ‘kan sekretaris, jadi aku harus tahu keterangan setiap siswa yang tidak hadir.” Ja-wabku sekenanya.
Ada keraguan di wajah Sule. Aku tak peduli. Jam pelajaran ke empat telah berlangsung selama satu jam pelajaran, Kepsek masuk ke kelas kami. Semua diam. Kepsek yang satu ini memang ditakuti semua siswa, tapi tidak untukku. Aku hanya segan kepadanya.
“Ruli sudah masuk?” tanyanya tegas.
“Belum, Buk!” Jawab kami serentak.

“Ke mana dia?”
Aku mengacungkan tangan agar tidak terjadi kekecohan. Kepsek memandang ke arahku meminta jawaban.
“Tidak tahu, Buk, karena dia tidak tinggal di rumahnya.” Ja-wabku.
“Orang tuanya?”
“Katanya mereka sudah berpisah dan tidak tinggal bersama lagi.”
“Pendidikan itu penting untuk masa depan, jadi jangan menyia-nyiakan pendidikan selama ada kesempatan.” Nasehatnya kepada kami. Dia pun berlalu. Ica dan Rozal memandangku dengan tatapan tajam.
“Kenapa?” Tanyaku heran.

“Mengapa kamu membuka rahasia Ruli?” Tanya Rozal. “Kalau dia tahu kami pun akan dipersalahkannya.” Sambungnya.
Lama aku berfikir rahasia mana yang aku buka,baru aku ingat dengan perkataanku kepada Kepsek tadi, “berpisah.”
“Ya Tuhan, aku lupa. Sumpah! aku tak sengaja dan sama sekali tidak berniat membuka hal itu. Maafkan aku, sungguh aku tak sengaja.” Kataku menyesal. Selain aku, Ica dan Rozal juga tahu masalah Ruli.

“Kenapa kamu minta maaf kepada kami, minta maaflah kepada Ruli.” Kata Rozal.
Mulai saat itu hatiku sungguh resah, rasa bersalah terus menghantui. Mau minta maaf, aku tidak tahu Ruli ada di mana sekarang. Aku takut dia membenci aku. Aku tak mau menambah satu orang lagi yang membenci aku, seperti Yuda dan Resa. Sudah banyak kali aku SMS Ruli tapi tidak ada balasan. Perasaan bersalah ini benar-benar mendera.

***

Langkahnya gontai, menunduk, terkeseng-keseng. Sudah dua minggu dia tidak muncul, baru sekarang menampakkan hidungnya. Mungkin anginnya mulai membaik. Dia langsung menuju tempat duduknya di ujung sudut kelas. Masih menunduk. Entah apa dalam pikirannya, semua tidak tahu. Memang orang lain tak peduli dengannya, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya aku dan Sule yang selalu bertanya keadaannya. Sebenarnya dari pertama aku melihat Ruli di rumah temanku, aku sudah mulai ingin tahu tentangnya. Apa yang menarik tentangnya aku tak tahu, yang aku tahu dia tengah sendiri. Dan aku telah menghancurkan kepercayaan yang diberikannya.

Tiga hari telah berlalu perasaan takutku masih mencengkam, terus mengalahkan keberanianku untuk berbicara langsung dengan Ruli. Menjelaskan semua tapi untuk bertemu dengannya saja aku takut, takut sekali. Apalagi sejak dia masuk ke sekolah tidak pernah sekalipun dia menegur bahkan melihatku. Sampai guru Bahasa Indonesia masuk ke kelas.

“Hari ini Bapak ingin kalian semua untuk menulis pengalaman masing-masing.” Pak Santoso membuka pertemuan kali ini. “Tapi Bapak mau satu orang ke depan untuk menceritakan pengalamannya.”

Hening. Semua bungkam. Tidak ada yang bersuara. Kelas yang aku duduki sekarang memang seperti itu, bila disuruh bicara dia diam tapi bila disuruh diam dia bicara. Sungguh memuakkan. Aku mengangkat tangan.

“Baiklah, Wita maju ke depan.” Aku melangkah ke depan kelas. Ada rasa gentar juga ditatapi oleh tiga puluh pasang mata.
“Ayahku meninggal dunia ketika aku masiah terlalu kecil,” kataku mengawali cerita. Tidak ada yang bersuara. Ruli tidak melihat ke arahku, dia masih menunduk.

“Ibu yang telah membesarkan kami anak-anaknya. Ketika aku di SD aku tidak pernah merasakan yanng namanya seragam baru. Semua bekas. Aku tidak pernah mengeluh, yang penting aku bisa sekolah. Di SMP aku membiayai sekolahkku sendiri dengan bantuan beasiswa untuk siswa yang berprestasi. Begitu juga di SMA. Aku selalu ditinggal sendiri di rumah, ibu dan kakak sering pergi. Ibu selalu berkata bahwa aku memang dibiarkan belajar hidup mandiri. Walaupun aku tidak makan, tapi aku harus sekolah. Itulah yang selama ini aku pertahankan. Masalah? Memang harus dimiliki oleh setiap insan agar bisa mengembang pola pikir kita. Kalau masalah keluarga, aku rasa keluargaku yang paling parah, kecoh. Setiap hari pasti ada pertengkaran, adu mulut, menangis. Sepertinya bagi mereka tiada hari tanpa bertengkar. Kadang aku berpikir untuk pergi dari rumah dan kota ini. Tapi ketika aku berpikir ulang, kalau aku pergi maka sekolahku akan terbengkalai, dan perjalananku sejauh ini akan sia-sia. Makanya aku masih bertahan sampai detik ini.”

Aku menutup cerita. Aku kembali ke bangku. Sebenarnya aku ingin Ruli sadar bahwa hidup ini memang susah, tapi harus dihadapi dan dijalani, karena di setiap langkah kita selalu disirami dengan kasih sayang yang abadi yaitu kasih sayang Tuhan. Bagi aku, kenyataan itu pengajaran. Belajar menghadapi kenyataan berarti belajar menikmati kehidupan. Kalau bagi orang lain hanya dua kata yang ingin aku ucapkan, “pata nehi.”***

Aku Menangis di Kuburanmu

Suara kicau burung mulai membangunkan Khairul di pagi dingin di hari minggu. Setelah mencuci mukanya dengan air sejuk kemudian ia membuat secangkir kopi hangat untuk menemaninya membaca harian pagi edisi minggu. Seperti biasa ia selalu mencari beberapa pekerjaan di kolom lowongan kerja. Khairul yang akrab dipanggil Irul ini tidak memiliki pekerjaan tetap, dia hanya seorang penulis kecil untuk harian pagi. Ketika ia memiliki atau membuat sebuah tulisan yang bagus maka akan ia kirimkan ke redaksi harian pagi itu dan mendapatkan upah yang sesuai dengan karyanya.

Pada malam minggu terkadang Irul mengunjungi pacarnya Imel yang tinggal di Perumahan Karyawan yang tidak jauh dari rumahnya. Imel memang termasuk keluarga yang berada, berbeda dengan Irul yang hidup dalam kesederhanaan. Namun orang tua Imel tidak melarang hubungan mereka. Meski dari keluarga yang berada, tapi Imel tidak memilih-milih teman. Karena itu Khairul sangat menyayanginya dan rela melakukan apa saja agar pacarnya tersebut bahagia.

Malam hari tiba, waktunya untuk makan malam bersama antara mereka berdua. Namun saat makan malam berlangsung, hidung Imel mengeluarkan tetesan darah kental. Saat itu Irul khawatir namun Imel hanya bilang kalau itu mimisan biasa. Mendengar itu kekhawatiran Irul berkurang. Suatu minggu pagi mereka berjalan di taman kota namun tiba-tiba Imel jatuh pingsan, saat itu ia langsung dibawa Irul ke rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa oleh Dokter yang bersangkutan Imel divonis menderita kanker otak. Hal itu diberitahukan oleh Dokter ke Imel. dan dikatakan bahwa umurnya tidak akan lama lagi. “Dok, saya harap dokter tidak memberitahukan hal ini pada pacar saya yang sedang menunggu di depan. Karena saya tidak ingin dia bersedih,” pinta Imel pada Dokter tersebut.
Setelah Dokter keluar dari ruangan, “Gimana, dok, keadaan pacar saya?” tanya Irul.

“O…anda tenang saja. Pacar anda baik-baik saja. Hanya terkena anemia atau kekurangan darah. Makanya dia sering letih dan pingsan,” jawaban Dokter pada Irul.
“Lalu, bagaimana, dok?” tanya Irul lagi penasaran.

“Hm… tolong biarkan dia istirahat untuk beberapa hari ini dan jangan diganggu dulu ya…” saran Dokter pada Irul lalu masuk ke dalam ruangan.

Dokter meminta agar Imel tabah dan sabar serta banyak berdoa agar datang suatu keajaiban nanti dan segera diminta memberitahukan kepada kedua orang tuanya tentang penyakit yang sedang di deritanya tersebut. Dan juga untuk tidak berhenti berobat ke spesialis-spesialis kanker otak.
Akhirnya Irul mengantar Imel pulang kerumahnya dengan sepeda motor. Sampai di depan teras, Imel mengucapkan selamat malam pada Irul dan berpesan agar hati-hati di jalan, begitu pula dengan Irul yang berpesan agar Imel banyak beristirahat.

Pada Malam harinya setelah selesai makan malam bersama keluarga, Imel menceritakan yang terjadi terhadap dirinya kepada kedua orang-tuanya. Imel merupakan anak satu-satunya di keluarga tersebut, jadi wajar ia sangat disayang oleh kedua orang tuanya. Mendengar apa yang disampaikan oleh anaknya tersebut kedua orang tuanya sangat sedih dan khawatir, dan segera berusaha bagaimana agar anaknya bisa cepat sembuh.

Sudah seminggu sejak pengobatan Imel yang tidak diketahui oleh Khairul. Bahkan ketika Irul menelpon untuk menanyakan keadaannya, pasti tidak pernah diangkat. Sms dari Irul tidak pernah dibalas. Sampai suatu hari Imel menelpon Khairul untuk datang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Imel, Khairul dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Orang tua Imel memperhatikan dari atas tangga. Imel juga pernah berpesan pada orang tuanya untuk tidak memberitahukan penyakit yang dideritanya kepada Khairul sampai kapanpun.

Dengan wajah mulai pucat Imel meminta Khairul untuk mendengarkan ucapannya dengan serius. “Rul, aku minta kamu jauhi aku mulai saat ini…” pintanya dengan nada sedih.

“Kenapa,,,?” tanya khairul penasaran.
“Aku mau kuliah ke luar negeri. Orang tuaku ingin aku hidup dengan orang yang sukses. Aku harap kamu bisa berusaha keras dan kembali padaku dengan kesuksesan yang kamu raih…”

Mendengar hal itu Khairul merasa terpukul dengan keadaan dirinya. Setelah Irul pulang maka Imel menangis di dalam kamar dan orang tuanya ikut sedih melihat yang terjadi pada anaknya.

Setibanya di rumah, Irul selalu murung dan memikirkan ucapan-ucapan yang telah didengarnya dari Imel. Itu menjadi sebuah penyemangatnya setelah pisah dari Imel. Ia bertekad untuk berusaha dan menjadi orang yang sukses, setelah itu ia akan kembali untuk membuktikan pada orang tua Imel, kalau ia mampu untuk menjadi orang yang sukses.

Hampir setiap hari ia mencari pekerjaan, kebetulan Harian Pagi yang sering ia kirimi tulisan sedang mencari orang untuk menjadi wartawan tetap. Dimulainya karir menjadi seorang wartawan, karena kerjanya yang gigih dan memuaskan kemudian Irul diangkat menjadi pe-mimpin redaksi yang mengelola harian pagi tersebut. Namun ketertarikannya terhadap menulis tidak pudar, ia mulai membuat novel tentang kisah hidupnya yang ia angkat menjadi cerita yang menarik. Novel yang ia buat laku keras dan terkenal di seluruh nusantara bahkan sampai ke Malaysia. Novel tersebut juga sempat dibaca oleh Imel, ia senang Khairul sudah mulai sukses. Kini Irul tidak lagi bekerja di harian pagi seperti biasa, kini dia telah menjadi penulis terkenal dan kaya raya. Namun, apa yang telah ia raih kini tidak membuatnya lupa dari mana asalnya. Dia tidak sombong dan selalu membantu orang-orang yang kesusahan.

Pada hari minggu, seperti biasa Khairul pergi untuk berlibur pulang ke rumahnya di kampung, namun cuaca agak sedikit mendung, namun tak menjadi halangan karena ia membawa mobil. Ketika mobilnya lewat di depan rumah Imel, ia hanya mendapati rumah tersebut sudah disegel dan tak berpenghuni lagi. Kebetulan rumah lama Khairul berada di sekitar pemakaman umum, ia melihat kedua orang tua Imel berjalan kaki dengan baju yang kusam dan membawa sekeranjang bunga. Ia tidak membalas apa yang pernah dikatakan Imel dulu padanya. Ia bertanya mau ke mana kedua orang tua tersebut. Karena merasa kasihan pada Khairul kedua orang tua Imel pun melupakan janji mereka untuk tidak mengatakan keadaan anaknya yang sebenarnya.

Orangtua Imel bercerita bahwa Imel terkena kanker otak, dan sebenarnya ia tidak pergi kuliah keluar negeri tetapi untuk pergi berobat. Dia tidak ingin membuat Khairul sedih dan dia berpesan agar Khairul tetap semangat dan ia senang atas kesuksesan yang telah Khairul raih.

“Kami telah berusaha untuk kesembuhannya, seluruh harta kami jual agar anak kami bisa sembuh, tapi Tuhan berkehendak lain,” ucap orangtua Imel dengan sedih.

Setelah mendengar apa yang telah disampaikan orang tua tersebut, Irul jatuh lemas terdiam. Sejenak ia membayangkan wajah Imel tersenyum padanya, terbayang pula segala kisah yang pernah mereka lalui bersama. Kemudian Khairul meminta orang tua Imel untuk mengantarkannya ke kuburan Imel.

Di sana segunduk tanah dan batu nisan bertuliskan nama Imelda Melani. Khairul menatap foto yang ada di kuburan tersebut, foto yang tersenyum padanya. Meninggalkan kisah kasih yang pilu, membuat air mata Khairul jatuh untuk ke sekian kalinya, menangisi kepergian kekasih yang sangat ia cintai.***

Ghost OF Love - Sebuah Cerpen

“Vin, besok jangan lupa bawa catatan kimia, fisika, matematika, and biologi ya,’’ kata Adit.
‘’Iya deh,,iya..,’ ‘ sambungku.
‘’Eits,,wait !oh ya,catatan jepang juga ya..,’’ kata Adit lagi.
‘’Iya…,’’ jawabku singkat.
‘’Jangan lupa lho…,’’ katanya lagi.
‘’Iya Dit….iya…,’’ jawabku singkat lalu kututup HP-ku. Habisnya,temanku yang satu ini paling recok deh. Kalau bicara sama dia,aku bisa gondokan nih…tapi,dia itu teman aku yang paling baik lho. Ada satu lagi temanku yang namanya Rian, hubungan kami bertiga sangat akrab.

Esoknya, saat istirahat,aku dan Rian pergi ke kantin untuk makan. Beberapa saat kemudian Adit tidak muncul juga. Kami berdua keheranan, padahal biasanya kami bertiga makan sama-sama. Sampai waktu istirahat berlalu, Adit tidak muncul juga. Jadi aku dan Rian memutuskan untuk beranjak masuk kelas. Saat pulang sekolah pun kami tidak melihat Adit. ‘’Mana sih ni anak??’’ gerutu Rian, kami berdua makin heran,dan Rian mengusulkan untuk pergi ke rumah Adit.

Kami sampai di rumah Adit, pengurus rumahnya yang membukakan pintu untuk kami.Mak Tita menyuruh kami langsung naik ke kamar Adit saja.
‘’Dit..napa lu?,’’ sapaku saat melihat Adit terbaring. ‘’Lagi sakit nih…,’’ jawabnya lemas. ‘’Tumben..Lu bisa sakit juga ya…,’’ ejek Rian.
Kami bertiga pun tertawa secara serentak. Habisnya Adit tuh yang biasanya overacting paling semangat dan paling recok. Aku dan Rian tak menyangka kalau rupanya Adit bisa jatuh sakit juga.
‘’Sakit apaan sih lu?,’’ tanyaku.
‘’Mau tau aja Lo…,’’ jawabnya sombong.
‘’Dasar lu! lagi sakit pun sombongnya minta ampyuun, ntar gak bisa sembuh lho…,’’kata Rian membelaku.
‘’Ada aja…,’’ kata Adit.
‘’Dasar lu…,’’ kata Rian sembari menggelinya.
‘’Eh guys, Gue punya pertanyaan nih..’’ kata Adit.
‘’Iya, apaan?,’’ tanyaku. ‘’Kalo Lo hidupnya tinggal sehari, apa yang mau Lu lakuin?’’ tanyanya.
‘’Kalo gue, mau pergi ke tempat favorit gue and ngehabisin hari gue di sana,’’ jawabku singkat.
‘’Kalo gue, mau tidur aja deh jadi gue gak bakalan menderita waktu gue lagi sekarat,’’ kata Rian.
‘’Oh,,.iya donk,,habisnya hobi lo kan molor aja…,’’ ejekku.
‘’Nah,gimana kalo lo Dit?,’’ tanyaku padanya. ‘’Kalo gue… gue pingin ngehabisin waktu yang ada bersama cewek yang gue suka,’’ jawabnya dengan muka yang sedih.

Dan ia menatapku. aku merasakan kalau tatapan itu ada maksudnya. Habisnya tatapan itu aneh. Sedangkan Rian terus merecokinya dengan cewek yang ia sukai itu, aku sih tidak begitu peduli, habisnya aku sudah tau kalau Adit suka sama seorang cewek. Namun aku penasaran juga, jadi aku juga ikut-ikutan Rian merecokinya. Tapi Adit tak pernah mau mengatakanya,
Kami berdua menghabiskan sore itu di rumah Adit dan berbincang-bincang dengannya. Saat hari sudah mulai gelap aku dan Rian pun berpamitan.

***

Liburan kali ini Rian pergi ke luar kota bersama keluarganya. Jadi tinggal aku dan Adit yang tak punya rencana kemana-mana. Akhirnya Adit mengajakku untuk pergi ke kampung halamannya. Dan aku setuju saja, di sana banyak padang rumput yang hijau yang penuh bunga. Aku sangat menyukai tempat itu. Kami berdua bermain di sana setiap hari dan kurasakan kalau aku mulai menyukai Adit. Tapi aku tak tahu bagaimana perasaan Adit terhadapku. Jadi kupendam saja perasaanku ini.

Lagipula aku sudah berjanji akan berpacaran dengan Rian setelah ia kembali dari liburannya. Jadi hubunganku dengan Adit adalah tidak mungkin. Tak mungkin aku mengingkari janji ku dengan Rian dan mengatakan pada Rian kalau aku menyukai Adit. ‘’Tidak mungkin,’’ pikriku.
Dan aku tetap melewati hari-hariku bersama Adit dan berharap bahwa hari-hari ini tidak akan pernah berakhir. Namun waktu tetap berjalan dan waktu liburan tinggal satu hari lagi.

Esoknya, Adit mengajakku ke padang rumput dan kami menghabiskan waktu bersama di sana. Kami berbincang-bincang dan tiba-tiba Adit memelukku dari belakang dan kudiami saja. Ia memelukku erat-erat tanpa berkata apa-apa. Sesaat kemudian aku memanggilnya dan ia tak menjawab. Jadi kupanggil lagi ia tetap tidak menjawab. Aku pun menjadi heran.

Tiba-tiba Adit jatuh dan tak sadarkan diri. Aku menjadi takut dan kubawa ia ke rumah sakit terdekat.Dokter mengatakan kalau ia kena serangan jantung. Dari dulu ia punya penyakit jantung bawaan dan penyakitnya bisa kambuh kapan saja. Aku masih tak percaya atas penjelasan dokter dan aku berusaha masuk ke kamarnyadan memanggilnya.Namun ia tak menjawabku, air mataku menetes tanpa kusadari.

‘’Apakah ini saat-saat yang tidak ingin aku alami ini harus terjadi sekarang?,’’ tangisku dalam hati. Hatiku menjerit ketika aku kehilanagan orang yang kusuka. Aku bukan saja kehilangan tubuhnya,namun juga jiwanya. Aku berpikir bahwa aku masih bisa melihatnya, menyentuhnya dan akrab dengannya meskipun hanya sebagai teman.

Namun sekarang aku tidak memilikinya lagi, baik sebagai teman ataupun pacar aku merasa sangat terpukul. Namun aku masih mempunyai satu hal yang tak bisa direbut siapapun dan apapun yaitu kenangan bersamanya, selamanya aku akan mengingat hari-hari dimana aku bersama Adit.
Saat Rian pulang dari luar kota ia juga merasa sedih akan kepergian Adit. Namun,itu semua berlalu dengan cepat. Aku dan Rian saling melengkapi dan memahami. Aku sudah tak begitu sedih lagi akan kepergian Adit karena ada Rian yang senantiasa di sampingku dan menghiburku. Ia mengisi hari-hariku dan sekarang aku sudah bisa menerima kehilangan Adit dan keberadaan Rian.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa sifat Rian mulai berubah. Aku bisa melihat sifat Rian menjadi sama seperti sifat Adit. Mungkin Rian berusaha meniru gaya Adit,pikirku pada awalnya. Tapi lama kelamaan hal itu semakin mejadi-jadi. Aku tak mungkin salah membedakan yg mana Adit dan Rian. Akhir-akhir ini aku merasakan keberadaan Adit pada diri Rian atau itu hanya perasaanku saja?.

Tapi tak mungkin sikap Rian dan Adit sangat berbeda, meskipun kalau Rian meniru gaya Adit, kadang-kadang pasti ada juga kesalahan sikap Rian menjadi perhatian tapi tak selembut Adit. Rian biasanya bisa mengubah suasana menjadi seru dengan pamer-pameran, Namun Adit bisa mengubah suasana menjadi romantis dan akhir-akhir ini Rian menjadi lembut dan hangat, aku bisa merasakannya. Ini bukan sikap Rian yang biasanya sikap ini sama seperti sikap Adit.

Setahun setelah kematian Adit, aku dan Rian pergi ke padang rumput yang berbunga di desa Adit, aku teringat setahun yang lalu ketika aku dan Adit bermain di sini di padang rumput ini. Ia memetikkan aku setangkai bunga lili yang putih bersih. Sekarang datang kemari bersama Rian, anehnya kali ini Rian yang memetikkan bunga untukku dan bunga itu sama dengan yang Adit berikan padaku setahun lalu.

Rian juga melakukan hal sama seperti Adit setahun lalu. Ia memelukku, Aku tak tahu siapa yang memelukku Rian ataukah Adit. Wajah yang kulihat adalah Rian, tubuh yang memelukku adalah Rian tapi mengapa kurasakan kehadiran Adit? yang kurasakan adalah kehangatan Adit. Aku heran aku berpikir ini adalah Adit, pasti Adit, Aku yakin.

‘’Dit, apakah ini lo?,’’ tanya ku pada Rian. Aku menatapnya lekat-lekat dan ia tersenyum padaku. ‘’Iya Vin. Ini gue Adit,’’ jawabnya. Aku tak bisa lagi menahan air mata ku. Aku tak pernah tahu bagai mana Adit bisa ada di tubuh Rian, tapi yang pasti kulakukan adalah memeluknya erat-erat. Kalau bisa aku tak mau melepasnya sudah lama aku kehilangan dia.

‘’Vinada yang mau gue katakan sama lo, gue dari dulu suka sama lo. Maaf ya kalo gue baru bilang sekarang. Mungkin udah telat tapi Vin gue datang untuk mengatakannya.Gue mau lo tahu kalo gue suka sama lo Vin,” terangnya sambil diakhiri dengan jeritan sembari memelukku erat-erat.

‘’Iya Dit,gue udah tau kok. Gue juga suka ma lo’’ ujarku sambil menatap matanya. Dulu gue suka sama lo Dit. Sampai sekarang juga.gue gak terima kenapa lo ninggalin gue tanpa berkata apa-apa.Dan kenapa lo sakit lo gak mau kasih tau gue? kenapa Dit?,’’ tanyaku sambil menangis
‘’Maaf Vin, gue gak mau lo sedih,’’ ujarnya dengan rasa bersalah. ‘’Tapi sekarang gue juga merasa sedih kan Dit?,’’ desakku.

‘’Maaf Vin, tapi kalao lo mau,gue bisa tinggal di sini,di tubuh Rian dan kita bisa hidup bersama.’’ terang Adit..’’ Tapi bagaimana dengan Rian?,’’ tanyaku. ‘’Rian…Rian mesti mengorbankan dirinya demi kita Vin. Dia pasti mau Vin. Dia pasti mau ngelihat lo bahagia,’’ balas Adit. ia mengatakan seolah-olah Rian menyetujuinya, sejenak aku berfikir bahwa Adit hanya mau menang sendiri.
‘’Enggak Dit. Ini tubuh Rian. Ini milik Rian. Gue gak mau Rian mengorbankan dirinya demi kita. gue gak mau Dit,’’ tolak ku. ‘’Jadi lu memilih berpisah Vin?,’’ tanya Adit. ‘’Maaf Dit, ini tubuh Rian, jangan egois Dit, hubungan kita sudah terlambat. Gak mungkin bisa kembali lagi,’’ ujarku dengan tegar menahan air mataku.

‘’Gue ngerti Vin, tapi maaf udah bikin lo sedih. Tapi gue yakin bisa menghibur lo. Rian bisa menggantikan posisi gue, gue suka lo Vin. gue akan tetap suka lo selamanya.gue janji..,’’ ungkapnya. ‘’Gue juga suka sama lo Dit…,’’ balasku.
Kemudian ia menciumku dan esoknya aku terbangun di kamar dengan Rian yang sudah menungguku dengan wajah cemas. ‘’Vin, lo kok tiba-tiba pingsan sih?,’’ tanya Rian cemas. Aku hanya tersenyum mendengar perkatannya. Kusadari, ini baru benar-benar sikap Rian, aku masih membayangkan apa yang terjadi itu benar- benar atau hanya mimpi? tapi aku tahu ini adalah nyata, karena aku mengenal tatapan yang mampu menembus hatiku sama seperti Adit lakukan dulu padaku.

‘’Udah Vin… jangan dipikirin. ntar gue jealous lho…,’’ kata Rian. ‘’Sekarang lo mesti kosentrasi buat suka sama gue dan thanks ya udah milih gue jadi pendamping lo…’’ terang Rian sambil tersenyum.
‘’Udah kalau gitu, sekarang lo istirahat ya…,’’ kata Rian. Aku tak tahu kalau Rian mengetahui semua kejadian saat aku bersana Adit. Saat ini aku merasa lebih bahagia, aku bersyukur masih ada seseorang yang bisa menyukaiku dan menyayangiku dengan sepenuh hati.***

Sketsa Cinta dan Bintang Kertas

Aku baru tahu sekarang, kenapa Joko selalu melamun setiap selesai mengerjakan PR di meja belajarnya. Aku sempat berpikir aneh-aneh tentang teman sekamarku itu. Tiada malam tanpa melamun, itulah semboyan dia sekarang. Setiap kali aku tanya, dia hanya menjawab “ini soal hati, men,” lalu melamun lagi.

Aku juga baru paham sekarang, kenapa Johan selalu terperangah setiap kali melihat ada perempuan yang lewat di depannya, mengibaskan wangi parfum ke batang hidungnya. Dia selalu terdiam selama beberapa menit menatap lurus pada wanita yang lewat di matanya, di pikirannya lalu di hatinya. Aku baru mengerti, kenapa mereka seperti itu. Penyebabnya tak lain yaitu karena: wanita adalah makhluk terindah. Dengan senyumnya, wanita mampu menaklukkan api, dengan tatapan matanya, wanita bisa mencairkan es di kutub utara. Dengan suara merdunya, wanita mampu menidurkan srigala, dengan kelembutan sentuhannya, wanita bisa menundukkan dunia.

* * *
“Hanif, bener si Neni belum punya cowok?” Aku bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Iya, Rangga, dia belum punya cow!.” Sudah sepuluh kali Hanif mengatakan hal yang sama. Aku masih juga tidak yakin. “Lalu, gimana dengan Rio? Kabarnya Neni ‘kan naksir abis sama Rio?” Aku memasang tampang cemberut, aku masih tidak percaya apa kata Hanif.

“Rio itu udah punya cewek di kampung, jadi dia gak akan mau sama Neni. Lagian, Neni itu ‘kan cewek tomboy. Hayooo… kamu suka sama dia ya?” Hanif menggelitik perutku.

“Eh, homo!!! Hahaha….” kami tertawa bersama. Tawa yang akan menyelinapkan duka di hatiku. Tawa yang akan mengantarkanku pada air mata pertama, yang jatuh karena wanita. Aku melanjutkan, “Emmm…suka sich gak, aku pengen tahu aja, Nif….”“Makanya, jangan makan rumus aja. Ini ke mana-mana bawa rumus gravitasi. Udahlah, bentar lagi masuk. Aku ke kelas dulu.” Hatiku lega mendengar apa yang barusan disampaikan Hanif. Aku Cuma bisa berdo’a, semoga saja dia benar.

Ya, aku merasakan sesuatu yang berubah. Waktu aku masih di kelas satu kemaren, aku hanya berkutat dengan buku dan pena, berkubang dengan tinta, bermandikan keringat dari raga yang selalu diperas untuk menyelesaikan persoalan Matematika. Sekarang, aku sudah kelas XI IPA 2 SMA, aku merasa hormonku berkembang. Aku sudah bisa melihat wanita. Dan wanita pertama yang membuat mataku buta adalah dia, Neni, cewek paling tomboy di sekolah. Aku merasa tida ada lagi wanita yang lebih cantik dari dia di dunia ini. Aku merasa tidak ada lagi senyum yang paling menawan selain hanya senyumnya.

Sejak kenaikan kelas kemaren, mataku tak pernah berhenti barang sedetik untuk menatap caranya berjalan, memandang caranya makan, mengamati caranya berbicara, meneliti caranya memperlakukan para pria. Ya, aku merasa mampu mengangkat gunung jika di bawah gunung itu ada cintanya, aku merasa mampu menguras habis air tujuh samudera jika di dalam samudera itu ada dirinya, diri wanita pujaanku, Neni Ayuningtiyas.
Sejak aku suka padanya, aku selalu mencari tempat duduk yang dekat dengannya, ada yang menarik hatiku untuk selalu berada di sisinya. Aku tidak tahu apa. Seperti pagi ini, aku duduk di depannya. Bangku pertama dari depan, dan dia di bangku tepat di belakangku. Dia sedang sibuk mencoret-coret kertas putih dibawah dagu yang berbentuk tampuk lebah, dia sedang menulis kata dengan jemarinya yang lentik bagai penari zapin. Sungguh anggun.

“Rangga, tolong bikinin aku tugas describing person, dong! Atau coba periksa punya aku, betul gak?” Dia menyodorkan lembar kerjanya padaku. Aku mengamatinya. Dia mendeskripsikan gaya liuk Ronaldinho menggiring bola. Dia memang maniak bola kaki. Dia hapal nama-nama pemain bola terkenal beserta profil mereka, apa posisinya dalam tim, berapa gol yang dicetaknya, dan lain sebagainya.

“Oke, aku mau men-translet-kannya ke Bahasa Inggris, tapi jangan pemain bola, Nen….” Aku menatap mata indahnya dengan bulu mata lentiknya. Rambutnya tergerai beberapa helai membingkai senyum di wajah manisnya. Dia sekilas seperti Ran Mouri, belahan jiwa Shinici Kudo, si Detektif Conan. Cantik, tomboy, dan tangguh.

“Ya, sini aku ubah dulu.” Dia meraih kertas itu dariku. Tak berselang beberapa menit, dia mencolek leherku dan memberikan kertas kerjanya lagi. Kali ini dia mendeskripsikan ibunya.

“Ibuku adalah wanita yang cantik, feminim dan pintar. Dia sangat baik dan paling rajin membersihkan rumah. Aku merasa minder jadi anaknya karena aku tidak secantik dirinya. Tapi, pada saat aku berumur 10 tahun, ibuku sakit dan dibawa ke Malaysia untuk berobat. Tapi, Tuhan terlalu sayang pada ibuku. Tuhan mengambil ibu dariku. Sejak itu, aku tidak punya ibu…”

Sampai di situ, aku tidak melanjutkan membaca, aku menoleh ke belakang. Aku disuguhkan bangku kosong. Neni sudah tidak ada di tempat duduknya. aku segera berlari keluar kelas.

“Bu Permisi!” Aku berlari sekencang mungkin melewati kelas demi kelas. Aku tahu, aku yakin, dia pasti sedang menangis. Aku langsung menerobos masuk ke toilet perempuan. Aku membabi buta. Aku buka ketiga pintu WC yang ada, untungnya tidak ada cewek di dalam. Kalau ada, sudahlah, namaku akan tercoreng, dari bintang sekolah menjadi seorang pengintip. Dia tidak ada. Lalu aku pergi ke samping WC, dia sedang duduk memeluk lutut dengan kepala ditenggelamkan ke dada. Aku hanya bisa berdiri di depannya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku kembali berlari, kembali ke kelas. “Ada yang punya tissue?” Aku melihat Sheila mengeluarkan tissue dari tasnya. Aku segera merebutnya dan kembali ke samping toilet. Aku duduk di depan Neni, dengan tangan bergetar, kuusap kepalanya. Dia memandangku, air matanya berlinang deras menjalari setiap penjuru wajahnya nan ayu.
“Maafin aku, Nen.” Kataku lembut.

“Gak papa, kamu nggak salah, kok.” Dia masih terisak dalam tangis. Aku buka tissue itu dan menghapus air matanya. Dia menatap mataku. Tatapan matanya menjelajahi relung terdalam hatiku. Dadaku berdegup kencang. Didobrak oleh rasa yang aku tidak tahu namanya. Tiba-tiba dia merengkuhku dalam pelukannya. Erat, sangat erat, aku jadi susah bernafas.

“Nen, udah, jangan nangis. Aku jadi ikut sedih kalau kamu nangis…” Karena…”karena aku sayang kamu,” lanjutku dalam hati. Ternyata, karena itulah dia selama ini jadi cewek tomboy. Dia kurang kasih sayang dari ibunya, tapi di balik ketomboiannya, dia adalah wanita berhati lembut. Itulah yang membuat aku jatuh cinta padanya.

Sore, setelah pulang sekolah, dia menghampiriku, memberiku bintang kertas yang mungil dan lucu. Dia tersenyum padaku dan berterima kasih karena aku telah menghapus satu duka di hidupnya. Aku menyimpan bintang kertas itu baik-baik. Bintang kertas itu menjadi sketsa cintaku yang menjelma menjadi duka, setelah aku tahu, ternyata Neni pacaran sama Rio, Hanif telah membohongiku. Dalam gambaran indah hatiku, aku mengira Neni akan menjadi pacar pertamaku, ternyata tidak. Hatiku hancur seperti batu yang dihantam bom atom berkekuatan berjuta newton.

Dua tahun kemudian, saat hari kelulusan, aku kembalikan bintang kertas itu padanya. Cukuplah sketsa cinta bermuara derita itu menjadi pengisi salah satu lembar hidupku. Saat aku baru tahu bahwa wanita adalah makhluk terindah, justru saat itu pula cinta di hatiku punah.***

Welcome to mY paLace

Everythong
Diberdayakan oleh Blogger.

Carolina is Lonely

Carolina is Lonely
Me Me Me

Mengenai Saya

Foto saya
Saya orang simple,,, gag usah banyak repot. . . yang penting niat dan tekad saja,,, itu pun sudah cukup untuk mencapai tujuan maksimal. . . (I am a simple, it,, do not have much trouble. . . important intention and resolve it,,, It was enough to achieve the maximum goal. . )

Pengikut

Cari Blog Ini